fenty binti zaeni: Desember 2012

Sabtu, 15 Desember 2012

RUMUS 16 TENSES BAHASA INGGRIS





Kata Kerja
Kata Kerja adalah bagian inti dari Tenses Bahasa Inggris. Kata kerja atau Verb pada rumus-rumus Tenses di blog ini, Kata kerja atau Verb ini sering saya singkat V saja. Jadi kalau V+ing artinya sama dengan Verb+ing, sering juga saya tulis sebagai “Ving” saja agar mudah.
Kata kerja dalam bahasa Inggris ada banyak bentuknya: V1, V2, V3, Ving.
Kata Kerja bentuk 1 atau saya singkat V1, yaitu kata kerja dasar, seperti: drink, go, write, read, participate, learn, study, dan sebagainya. Ada kata kerja bentuk ke 2, sering saya singkat V2. Kata kerja bentuk 3 ya V3. Serta Kata Kerja bentuk ING atau saya singkat Ving. Bagaimana cara menggunakan bentuk-bentuk kata kerja tersebut? Ada di masing-masing pelajaran Tenses Bahasa Inggris.
Perubahan Bentuk Kata Kerja
Perubahan bentuk Kata Kerja bentuk 1 (V1) ke bentuk kedua (V2) dan bentuk ke 3 (V2) ada yang beraturan (ada rumusnya) dan ada juga yang tidak beraturan (tidak ada rumusnya). Wah memamg inilah yang membuat bahasa Inggris ini menjadi rumit bagi kita orang Indonesia, haha.
Kata Kerja Beraturan (Regular Verb):
Artinya ya mempunyai keteraturan bentuknya, ada rumusnya misalnya ditambah “D” atau “ED” seperti: live – lived – lived, play, played, played.
Walaupun ada aturannya tetapi aturan perubahan tersebut masih ada beberapa. Daftar kata kerja beraturan ini pun panjang sekali. Saya sarankan Anda mempunyai buku Grammar Bahasa Inggris walaupun yang kecil dan sederhana, biasanya ada di sana. Memang Anda mau menulsinya disini satu per satu?.
Kata Kerja TIDAK Beraturan (Irregular Verb):
Misalnya kata kerja “drink” berturut-turut untuk bentuk ke 1 sampai 3: drink-drank-drunk. Satu contoh lain lagi: break-broke-broken
Masih ingat V1, V2, V3 dan Ving? Jangan lupa apa itu artinya ya, karena akan sering dipergunakan dalam setiap  tenses bahasa inggris
1. Present Tense (Waktu Sekarang)
a. Simple Present Tense (Waktu Sekarang Sederhana)
Rumus :
+ } S + V1 + O/C
- } S + Do/does + not + V1 + O/C
? } Do/does + S + V1 + O/C
Example :
+ } Sisca Reads book everyday
- } Sisca does not Read book everyday
? } does Sisca Read book everyday
Yes He does / No He does not (doesn’t)
For I, We, You, They = do
He, She, It = Does
Contoh kalimat :
(+) She is a new people here.
(+) He plays football every morning
(-) She isn’t a new people here.
(-) He does not playing football every morning.
(?) Is she a new people here?
(?) How playing football every morning?
b. Present Continuous Tense (Waktu Berlangsung Sekarang)
Menerangkan suatu perbuatan yabg sedang berlangsungpada waktu sekarang.
Rumus :
+ } S + Be + V1 + ing + O/C            >>           + } They are playing badmintoon now
- } S + Be + not + V1 + ing + O/C >>           – } They are not playing badmintoon now
? } Be + S + V1 + ing + O/C            >>           ? } Are they palaying badmintoon now ?
Yes They are / no they are not
For I = am
They, we, you = are
He, She, It = Is
Contoh dalam kalimat :
(+) He is playing badminton now
(-) He isn’t playing badminton now.
(?) Is he playing badminton now.
c. Present Perfect Tense (Waktu Sempurna Sekarang)
Rumus :
subject+auxiliary verb+main verb
Contoh :
(+) you have eaten mine.
(-) she has not been to Rome
(?) have you finished?
d. Present Perfect Continuous Tense (Waktu Berlangsung Sempurna Sekarang)
Rumus :
(+): S + have/has + been + Ving
(-): S + have/has + not + been + Ving
(?): Have/has + S + been + Ving
Contoh :
(+) She has been going to Malang since evening.
(+) We have been riding a horse for three days
(-) She hasn’t been going to Malang since evening.
(-) We haven’t been riding a horse for three days.
(?) Has she been going to Malang ?
(?) Have He been riding a horse for three days ?
2. Past Tense (Waktu Lampau)
a. Simple Past Tense (Waktu Lampau Sederhana)
Rumus :
+} S+Be+Was/Were+O/C
-} S+Be+Was/Were+not+O/C
?} Be+Was/Were+ S+O/C
Example :
+} We were at school yesterday
-} We were not at school yesterday
?} were we at school yesterday ?
For I, He, She, It = Was
They, we, you = were
Contoh :
(+ ) I saw a good film last night
( +) He came here last month
(-) I did not see  a good film last night
(-) He didn’t come  last month
(?) Did I see a good film last night
(?) Did He come here last month
b. Past Continuous Tense (Waktu Berlangsung Lampau)
Rumus :
(+): S + was/were + Ving
(-): S + was/were + NOT + Ving
(?): Was/Were + S + Ving
Contoh :
(+) He was watching television all afternoon last week
(+) They were talking about sport when I met him
(-) He wasn’t watching television all afternoon last week
(-) They weren’t talking about sport when I met him
(?) Was He watching television all afternoon last week
(?) Were they talking about sport when I met him
c. Past Perfect Tense (Waktu Sempurna Lampau)
Rumus :
subject+auxiliary verb HAVE+main verb
(+): S + had + V3
(-): S + had + not + V3
(?): Had + S + V3
Contoh :
(+) When my brother arrived , I had painted my motor cycle
(+) The ship had left before I arrived
(-) When my brother arrived , I hadn’t painted my motor cycle
(-) The ship hadn’t left before I arrived
(?) Had I my motor cycle , when my brother arrived ?
(?) Had the ship left before I arrived?
d. Past Perfect Continuous Tense (Waktu Berlangsung Sempurna Lampau)
Rumus :
subject+auxiliary verb HAVE+auxiliary verb BE+main verb
Contoh :
(+) They had been living there for two month
(+) When they washed my drees , your father had been playing badminton
(-) They hadn’t been living there for two month
(-) When they washed my dress , your father hadn’t been playing badminton
(?) Had they been living there for two month?
(?) When they washed my dress , had your father been playing badminton ?
3. Future Tense (Akan Datang)
a. Simple Future Tense (Waktu Akan Datang Sederhana)
Rumus :
subject+auxiliary verb WILL+main verb
Contoh :
(+) I will visit to yogyakarta tomorrow.
(+) he will met girl friend by seven o’clock
(?) Will he go to America next month?
(+) President shall at Nederland the day after tomorrow.
(-) President shall not at Nederland the day after tomorrow.
(?) Shall President at Nederland the day after tomorrow?
b. Future Continuous Tense (Waktu Berlangsung Akan Datang)
Rumus :
subject+auxiliary verb WILL+auxiliary verb BE+lain verb
Contoh :
(+) I will be writing a comic.
(+) I will be studying tomorrow night.
(-) I will not writing a comic.
(-) I will not be studying tomorrow night.
(?) Will I be writing a comic ?
(?) Will I be studying tomorrow night ?
c. Future Perfect Tense (Waktu Sempurna Akan Datang)
Rumus :
subject+auxiliary verb WILL+auxiliary verb HAVE+main verb
Contoh :
(+) Iwill havefinishedby 10am.
(+) Youwill haveforgottenme by then.
(-) Shewillnothavegoneto school.
(-) Wewillnothaveleft.
(?) Willyou havearrived?
(?) Willthey havereceivedit?
d. Future Perfect Continuous Tense (Waktu Berlangsung Sempurna Akan Datang)
Rumus :
subject+auxiliary verb WILL+auxiliary verb HAVE+auxiliary verb BE+main verb
Contoh :
(+) I will have been reading a news paper.
(+) He will have been listening music.
(-) I will haven’t been reading a news paper.
(-) He will haven’t listening a music.
(?) Will I have been riding a news paper ?
(?) Will He have listening a music ?
4. Past Future Tense (Akan Datang Di Waktu Lampau)
a. Past Future Tense (Waktu Akan Datang Di Waktu Lampau)
Rumus :
Positif: S + would + V1
Negatif: S + would + not + V1
Tanya:  Would + S + V1
Contoh :
(+) He would come if you invited him.
(+) They would buy a home the previous day.
(-) He wouldn’t come if invited him.
(-) They wouldn’t buy a home the previous day.
(?) Would He come if invited him ?
(?) Would they buy a home the previous day ?
b. Past Future Continuous Tense (Waktu Akan Sedang Terjadi Diwaktu Lampau)
Rumus :
Positif: S + would + be + Ving
Negatif: S + would + not + be + Ving
Tanya: Would + S + be + Ving
Contoh :
(+) I should be swimming at this time the following day.
(+) I shall be sliping at 10 o’clock tomorrow.
(-) I shouldn’t be swimming at this time the following day.
(-) I shalln’t be sleeping at 10 o’clock tomorrow.
(?) Shall I be swimming at this time the following day ?
(?) Shall I be sleeping at10 o’clock tomorrow ?
c. Past Future Perfect Tense (Waktu Akan Sudah Selesai Di Waktu Lampau)
Rumus :
Positif: S + would + have + V3
Negatif: S + would + not + have + V3
Tanya: Would + S + have + V3
Contoh :
(+) He would have graduated if he had studies hard.
(+) Nonok will have studied moth by the end of this week.
(-) He wouldn’t have gone if he had met his darling
(-) Nonok will have not studied month by the end of this week
(?) Would He have gone if he had met his darling ?
(?) Will Nonok have studied month by the end of this week ?
d. Past Future Perfect Continuous Tense
(Waktu Yang Sudah Sedang Berlangsung Pada Waktu Lampau)
Rumus :
Positif: S + would + have + been + Ving
Negatif: S + would + not + have + been + Ving
Tanya: Would + S + have + been + Ving
Contoh :
Rianawati would have been speaking English for two years
(+) Mrs. Anisa Munif would have been walking here for seventeen years
(+) Rianawati would have been speaking English for two years
(-) Mrs. Anisa Munif wouldn’t have been walking here for seventeen year
(-) Rianawati wouldn’t have been speaking English for two years
(?) Would Mrs. Anisa Munif have been walking here for seventeen years?
(?) Would Rianawati have been speaking English for two years?

apa itu JOMBANG??

Jombang termasuk Kabupaten yang masih muda usia, setelah memisahkan diri dari gabungannya dengan Kabupaten Mojokerto yang berada di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromodjojo, yang ditandai dengan tampilnya pejabat yang pertama mulai tahun 1910 sampai dengan tahun 1930 yaitu : Raden Adipati Ario Soerjo Adiningrat.
  
Menurut sejarah lama, konon dalam cerita rakyat mengatakan bahwa salah satu desa yaitu desa Tunggorono, merupakan gapura keraton Majapahit bagian Barat, sedang letak gapura sebelah selatan di desa Ngrimbi, dimana sampai sekarang masih berdiri candinya. Cerita rakyat ini dikuatkan dengan banyaknya nama-nama desa dengan awalan "Mojo" (Mojoagung, Mojotrisno, Mojolegi, Mojowangi, Mojowarno, Mojojejer, Mojodanu dan masih banyak lagi).
Salah Satu Peninggalan Sejarah di Kabupaten JombangCandi Ngrimbi, Pulosari Bareng Bahkan di dalam lambang daerah Jombang sendiri dilukiskan sebuah gerbang, yang dimaksudkan sebagai gerbang Mojopahit dimana Jombang termasuk wewenangnya Suatu catatan yang pernah diungkapkan dalam majalah Intisari bulan Mei 1975 halaman 72, dituliskan laporan Bupati Mojokerto Raden Adipati Ario Kromodjojo kepada residen Jombang tanggal 25 Januari 1898 tentang keadaan Trowulan (salah satu onderdistrict afdeeling Jombang) pada tahun 1880.
Sehingga kegiatan pemerintahan di Jombang sebenarnya bukan dimulai sejak berdirinya (tersendiri) Kabupaten jombang kira-kira 1910, melainkan sebelum tahun 1880 dimana Trowulan pada saat itu sudah menjadi onderdistrict afdeeling Jombang, walaupun saat itu masih terjalin menjadi satu Kabupaten dengan Mojokerto. Fakta yang lebih menguatkan bahwa sistem pemerintahan Kabupaten Jombang telah terkelola dengan baik adalah saat itu telah ditempatkan seorang Asisten Resident dari Pemerintahan Belanda yang kemungkinan wilayah Kabupaten Mojokerto dan Jombang Lebih-lebih bila ditinjau dari berdirinya Gereja Kristen Mojowarno sekitar tahun 1893 yang bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung di Kota Jombang, juga tempat peribadatan Tridharma bagi pemeluk Agama Kong hu Chu di kecamatan Gudo sekitar tahun 1700.
Konon disebutkan dalam ceritera rakyat tentang hubungan Bupati Jombang dengan Bupati Sedayu dalam soal ilmu yang berkaitang dengan pembuatan Masjid Agung di Kota Jombang dan berbagai hal lain, semuanya merupakan petunjuk yang mendasari eksistensi awal-awal suatu tata pemerintahan di Kabupaten Jombang

Senin, 10 Desember 2012

SEJARAH PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM JOMBANG

PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM Tambakberas Jombang, terletak di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur, tepatnya ± 3 Km sebelah utara kota Jombang. PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM Tambakberas Jombang, secara keseluruhan menempati areal tanah ± 10 Ha, dengan sosiokultur religious agraris. SEJARAH PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM PERIODE RINTISAN PERTAMA (PONDOK SELAWE / PONDOK TELU 1825 M) Sekitar tahun 1825 di sebuah Desa yang jauh dengan keramaian kota Jombang, tepatnya di sebelah utara kota Jombang, di Dusun Gedang kelurahan Tambakrejo, datanglah seorang yang ‘alim, pendekar ulama atau ulama pendekar, bernama ABDUS SALAM namun lebih dikenal dengan panggilan MBAH SHOICHAH (bentakan yang membuat orang gemetar) Kedatangannya di dusun ini membawa misi untuk menyebarkan agama dan ilmu yang dimilikinya. Menurut silsilah beliau termasuk keturunan Raja Brawijaya (kerajaan Majapahit) dan merupakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Abdus Salam adalah putra Abdul Jabbar (Mbah Jabbar ) putra Abdul Halim (Pangeran Benowo) putra Abdurrohman (Jaka Tingkir). Selengkapnya Baca Silsilah Kyai Abdussalam halaman 44. Sebelum kedatangan Abdus Salam, desa ini masih merupakan hutan belantara yang tidak dihuni. Selama kurang lebih 13 tahun beliau bergelut dengan semak belukar dan kemudian menjadikan desa ini sebagai perkampungan yang dihuni oleh komunitas manusia. Setelah berhasil merubah hutan menjadi perkampungan, mulailah beliau membuat gubuk tempat beliau berdakwah yaitu sebuah pesantren kecil yang terdiri dari sebuah langgar, bilik kecil untuk santri dan tempat tinggal yang sederhana. Pondok pesantren tersebut dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Pondok Selawe dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang. Disebut juga dengan Pondok Telu karena bidang atau materi keilmuan yang dikaji meliputi tiga ilmu yaitu syari’at, hakikat dan kanuragan. Dari sisi lain dinamakan Pondok Telu karena jumlah bangunannya terdiri dari 3 lokal. Hal ini terjadi pada tahun 1838 M, kondisi tersebut adalah cikal bakal PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM. PERIODE RINTISAN KEDUA Setelah Kyai Shoichah (Abdussalam) berusia lanjut (sepuh: bahasa jawa) tampuk pimpinan Pondok Selawe atau Pondok Telu diserahkan kepada dua menantunya yang tidak lain adalah santrinya sendiri, yaitu Kyai Ustman dan Kyai Sa’id. Pada tahap selanjutnya, atas restu dari Mbah Shoichah keduanya kemudian melakukan pengembangan terhadap pondok pesantren. Jika mbah Usman lebih menitikberatkan pesantrennya dalam ritual thoriqoh di timur sungai Tambakberas, maka sebaliknya mbah Sa’id lebih fokus pada pengembangan pesantren dengan kajian-kajian yang bersifat syari’at. Karena itlah maka Pondok Pesantren mbah Sai’d yang beada di sebelah barat sungai Tambakberas ini dikenal dengan sebutan Pondok Syari’at. Dan karena pondok yang dikembangkan oleh mbah ustman yang lebih fokus pada thoriqot, maka pondok ini dinamakan pondok thoriqot. PERIODE PENGEMBANGAN PERTAMA Setelah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id wafat, yang meneruskan tampuk pimpinan pesantren adalah Kyai Hasbulloh, putra Kyai Sa’id. Sedangkan pesantren Kyai Ustman tidak ada yang meneruskan karena beliau tidak mempunyai putra laki-laki. Akhirnya sebagian santri Kyai Ustman diboyong oleh menantunya yang bernama Kyai Asy’ari ke Desa Keras yang akhirnya berkembang menjadi pondok pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan Kyai Hasbulloh. Adapun untuk pusat jama’ah thoriqoh akhirnya dipindah ke desa Kapas dan diteruskan oleh menantunya yang bernama Abdulloh. Kyai Hasbulloh adalah seorang yang kaya raya dan dermawan, beliau memiliki tanah pertanian yang sangat luas. Dari hasil pertanian ini beliau banyak memiliki gudang-gudang beras yang menyebar dimana-mana bagaikan tambak. Konon karena hal itu daerah ini disebut Dusun Tambakberas dan pondok pesantren beliau dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas. Dibawah pimpinan Kyai Hasbulloh pondok pesantren berkembang sangat pesat. Guna kelanjutan pondok pesantren yang diasuhnya, Kyai Hasbulloh mengirimkan putra-putranya untuk belajar di pesantren, bahkan hingga ke Makkah Saudi Arabia untuk menuntut ilmu. PERIODE PENGEMBANGAN KEDUA (1914) Pada tahun 1914 Kyai Abdul Wahab(Putra tertua Kyai Hasbulloh)kembali dari tugas belajarnya di t`nah suci Makkah. Sejak saat itu Kyai Abdul Wahab mulai melakukan pembaharuan pondok pesantren Tambakberas.Sistem pendidikan yang tadinya berbentuk halaqoh kemudian diubah menjadi sistem pendidikan madrasah yang penanganannya diserahkan kepada salah satu adiknya yaitu Kyai Abdurrochim. Dengan sistem pendidikan Madrasah yang dikembangkan, pondok pesantren Tambakberas berkembang semakin pesat, dan pada tahun 1915 Kyai Abdul Wahab mendirikan Madrasah yang pertama (terletak di sebelah barat masjid, sekarang dibangun gedung Yayasan PPBU), Madrasah tersebut diberi nama Madrasah Mubdil Fan. Pada tahun 1920 Kyai Hasbulloh wafat. Maka pesantren ini dilanjutkan oleh Kyai Abdul Wahab, dengan dibantu oleh kedua adiknya yaitu Kyai Abdul HamiddanKyai Abdurrohimyang juga baru kembali dari studinya di tanah suci Makkah. Dalam penataan manajemen pengelolaannya, Kyai Abdul Hamid lebih berkonsentrasi terhadap pengelolaan pondok, sedangkan Kyai Abdurrohim bertanggungjawabmengelola Madrasah. Kyai Abdul Wahab banyak berkiprah di kancah organisasi sosial kemasyarakatan. Salah satu organisasi yang didirikannya adalah kelompok diskusi yang diberi nama TASHWIRUL AFKAR yang berpusat di Surabaya pada waktu itu. Dan pada tahun 1926 beliau mendirikan organisasi yang diberi nama NAHDLATUL WATHON dan pada akhirnya berganti nama menjadi NAHDLATUL ULAMA yang berkembang sampai sekarang. Pada 1942, Kyai Wahab mendirikan pondok pesantren putri yang pertama, Al-Lathifiyyah, atas perintah Nyai Lathifah, istri Kyai Chasbulloh. PERIODE PENGEMBANGAN KETIGA Pada tahun 1942 Kyai Abdul Hamid dan Kyai Abdurrohim memanggil keponakannya yang bernama Kyai Abdul Fattah menantu Kyai Bisri Syansuri Denanyar, sebagai upaya regenerisasi pengelolaan Madrasah. Pada tahun 1943 Kyai Abdurrahim wafat, tugas-tugas beliau diteruskan oleh Kyai Abdul Fattah. Mengingat semakin jumlah santri semakin bertambah banyak, Kyai Abdul Fattah mendirikan gedung Madrasah di dekat rumahnya yang kelak oleh Kyai Abdul Wahab diberi nama Madrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah (MII) dan kemudian berganti nama Madrasah Ibtida’iyyah (MI). Pada tahun 1944/1945 lahirlah Madrasah putri yang pertama yang diprakarsai oleh Ny. H.R.Mas Wardiyah (istri Kyai Abdurrochim), yang didampingi oleh Ny.Chasbiyah (putri Kyai Aqib Gedang ) dan Ny Masyhuda binti Kyai Nur. Pada tahun 1951 Kyai Abdul Fattah dengan restu para sesepuh, mendirikan pondok pesantren putri Al-Fathimiyyah, serta pada tahun 1956 mendirikan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun. Pada tanggal 6 Juni 1956 Kyai Abdul Hamid wafat, maka pengelolaan pondok pesantren Tambakberas dilanjutkan oleh Kyai Abdul Fattah, sedangkan pengelolaan Madrasah diserahkan kepada Kyai Achmad Alfatich, putra sulung Kyai Abdurrohim. Dibawah pimpinan beliau Madrasah lebih berkembang, sehingga pada tahun 1964, Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 tahun ditambah masa studinya menjadi 6 tahun dan berubah nama menjadi Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas. Sedangkan untuk teknis monitoringnya diserahkan kepada kyai Al-Fatih sekaligus sebagai direkturnya. Pada tahun 1965 Kyai Abdul Wahab memberi nama pondokpesantren ini dengan nama PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM. Pada tanggal 29 Desember 1971/ 11 Dzulqo’dah 1391 H. Kyai Abdul Wahab pulang ke rahmatulloh. kepengasuhan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM diteruskan oleh Kyai Abdul Fattah dibantu oleh para dzurriyah Bani Chasbulloh yang lain. Pada tahun 1974 Kyai Abdul Fattah mulai merintis Perguruan Tinggi yang diberi nama Al-Ma’had Al-Aly. Setelah Kyai Abdul Fattah wafat pada tahun 1977, tampuk kepengasuhan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM, dilanjutkan oleh KH. M. Najib Abd. Wahab, LML putra ketiga Kyai Abdul Wahab. KH. M. Najib Abd. Wahab, LML memiliki reputasi cemerlang dalam membawa lembaga PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM pada pentas nasional. Selain pernah menjabat sebagai Ro’is Syuriah PBNU, pada tahun 1985 beliau bersama pengasuh yang lain juga menghidupkan Al-Ma’had Al-Aly menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dengan menunjuk Drs. KH. Moh. Syamsul Huda As, SH.,M.HI sebagai ketua. Dalam kapasitas sebagai ketua Robithotul Ma’ahid (Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama), KH. M. Najib Abd. Wahab.L.ML menyelenggarakan Usbu’ul Ma’ahid (Pekan Pesantren se-Jawa). Salah satu hasilnya adalah lahirnya Kompilasi Hukum Islam, yang kemudian dijadikan pedoman hakim agama Islam di Indonesia. KH. M. Najib Abd. Wahab, LML menata manajemen pondok putra dengan menyusun struktur kepengurusan. Sejak saat itu muncullah istilah Rois Khos (ketua komplek). Beliau juga mengamanatkan kepengurusan masjid kepada KH. Moh. Sholeh Abd. Hamid sebagai ketua ta’mirnya, dan menyelenggarakan pengajian sentral tiap Senin malam Selasa di masjid.Pada 20 November 1987, KH. M. Najib Abd. Wahab, LML pulang rahmatulloh. Sepeninggal beliau, PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM diasuh dengan menggunakan sistem kepengasuhan kolektif. PERIODE PENGEMBANGAN KE-4 (KEPENGASUHAN KOLEKTIF) Seiring dengan perkembangan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM yang semakin pesat dari tahun ke tahun, baik jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikan formal dan non-formal yang ada di dalamnya, maka untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada diperlukan suatu manajemen kepengasuhan Pondok Pesantren yang konstruktif, jelas, terprogram dan terarah. Berangkat dari ide dasar itulah maka kemudian lahir pemikiran untuk membagi Manajemen kepengasuhan Pondok Pesantren menjadi; Majelis Pengasuh, yang berfungsi sebagai lembaga legislatif yang memiliki otoritas atau pemegang kebijakan tertinggi. Pengurus Yayasan, yang berfungsi sebagai eksekutif yang menjalankan semua program pengembangan dan pemberdayaan pendidikan semua lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM. Dewan Pengawas, yang berfungsi sebagai yudikatif, yaitu mengawasi, memberikan pertimbangan kepada pengurus yayasan dan memberikan masukan kepada Majelis Pengasuh. Dibentuknya dewan pengawas dalam struktur manajemen PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM sejak tahun 2006, hal ini sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-undang RI No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Hingga saat ini, sejak kepemimpinan kolektif ini diterapkan, sudah mengalami dua/tiga periode kepemimpinan Majelis Pengasuh; Almaghfurlah KH.M. Sholeh Abdul Hamid (1987 – 2006) Pada masa kepengasuhan beliau, jabatan Ketua Umum Yayasan PPBU telah mengalami beberapa kali pergantian, yaitu KH Ahmad Alfatich Abdur Rohim (1990 – 1994), Drs. KHM Hasib Abdul Wahab (1994 – 1998), Drs. KH Fadhlulloh Abd. Malik (1998 – 2002), KH Taufiqurrohman Fattah yang menjabat dua periode, 2002 – 2006 dan 2006 – 2009. Pada saat Ketua Umum Yayasan dijabat oleh KH. Ach. Taufiqurrohman Fattah, kemudian dimunculkan Peran Yudikatif (Dewan Pengawas) sebagai konsekuensi diberlakukannya Undang-Undang No 16 tahun 2001 tentang Yayasan. Almaghfurlah Drs. KH. Amanulloh Abdur Rochim (2007-2008) Ketika KHM Sholeh Abd. Hamid wafat pada Senin malam Selasa tanggal 16 Syawal 1427 / 7 November 2006 tampuk pimpinan Majelis Pengasuh dipegang oleh Drs. KH Amanulloh AR. Sedangkan Ketua Umum Yayasan masih dijabat oleh KH. Ach. Taufiqurrohman Fattah. Beberapa kebijakan penting yang diambil pada saat KH. Amanulloh AR menjadi Ketua Majelis adalah diselenggarakannya pertemuan Alumni Bahrul Ulum tingkat nasional yang akhirnya membentuk suatu ikatan wadah alumni yang berrnama Ikatan Alumni Bahrul Ulum atau yang disingkat dengan nama IKABU. Selain itu, untuk terus mengharumkan kembali nama PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM di bumi nusantara beliau juga mengadakan Pertemuan Ulama dan Umara se Jawa dan Madura. Satu program besar lain yang digagas oleh beliau adalah pembangunan Gedung Serba Guna yang direncanakan berfungsi sebagai balai pertemuan maupun sarana olah raga santri Bahrul Ulum. Namun sebelum sempat pembangunan itu terealisir, beliau dipanggil oleh Allah pada 13 November 2007 pada usia 65 tahun, satu tahun persis setelah meninggalnya KH.M. Sholeh Abd. Hamid. Semenjak KH. Amanulloh wafat, jabatan Ketua Majelis Pengasuh – sesuai dengan kebijakan yang diambil semua anggota Majelis Pengasuh – dikosongkan untuk sementara waktu sampai berakhirnya kepengurusan tahun 2009. Dan untuk menjalankan roda organisasi di Majelis Pengasuh – sesuai dengan mekanisme dan job yang telah ditetapkan – maka untuk pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan lembaga pondok pesantren dipegang oleh KH. Abd. Nashir Abd. Fattah, sedangkan yang berkaitan dengan lembaga pendidikan formal dan hubungan dengan lembaga di luar PPBU dipegang oleh Drs. KH. M. Hasib Wahab, dan sebagai Katibnya adalah H. Sholachul Am Notobuwono, SE. TAHUN 2011 PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM Tambakberas Jombang, sampai dengan tahun 2009 ini sudah berusia 185 tahun, sedangkan Madrasahnya berusia 95 tahun. Di usianya yang jauh melebihi kemerdekaan bangsa ini PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM Tambakberas Jombang, telah berkembang pesat dengan beragam jenis dan jenjang pendidikan. Hingga saat ini PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM memiliki 31 unit asrama pondok pesantren dan 18 unit pendidikan formal dari tingkat PRA SEKOLAH sampai dengan PERGURUAN TINGGI.

Minggu, 09 Desember 2012

Kelebihan & Kekurangan Metode Ceramah dalam Pembelajaran

Ceramah merupakan salah satu metode mengajar yang paling banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Metode ceramah ini dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik secara langsung atau dengan cara lisan. Penggunaan metode ini sifatnya sangat praktis dan efisien bagi pemberian pengajaran yang bahannya banyak dan mempunyai banyak peserta didik. Metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan, oleh karena itu metode ini boleh dikatakan sebagai metode pengajaran tradisional karena sejak dulu metode ini digunakan sebagai alat komunikasi guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Metode ini sejak dulu sudah digunakan dalam mengembangkan dan mendakwakan agama Islam baik Nabi Muhammad saw maupun para Sahabat-sahabatnya. Kelebihan & Kekurangan Metode Ceramah dalam Pembelajaran. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengertian metode ceramah, dapat kita lihat beberapa defenisi yang dikemukakan oleh para ahli yaitu: * Menurut Suryono Metode ceramah adalah Penuturan atau penjelasan guru secara lisan, di mana dalam pelaksanaanya guru dapat menggunakan alat bantu mengajar untuk memperjelas uraian yang disampaikan kepada murid-muridnya.[1] * Menurut Roestiyah N.K Metode ceramah adalah Suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.[2] * Menurut Team Didaktik Metodik “Metode ceramah adalah Penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas”.[3] Dengan berbagai macam pendapat yang penulis paparkan di atas, maka setelah dianalisa dengan baik dan seksama maka pada dasarnya pengertian itu sama, yaitu penulis mengambil kesimpulan bahwa metode ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kelebihan & Kekurangan Metode Ceramah dalam Pembelajaran Metode ceramah merupakan metode mengajar yang paling banyak digunakan, hal ini mungkin dianggap oleh guru sebagai metode mengajar yang paling mudah dilaksanakan. Kalau bahan pelajaran dikuasai dan sudah ditentukan urutan penyampaiannya, guru tinggal menyajikannya di depan kelas. Siswa-siswa memperhatikan guru berbicara, mencoba menangkap apa isinya dan membuat catatan[4]. Gambaran pengajaran matematika dengan pendekatan metode ceramah adalah Guru mendominasi kegiatan belajar mengajar, defenisi dan rumus diberikan oleh guru, penurunan rumus atau pembutian dalil dilakukan sendiri oleh guru, diberitahukannya apa yang harus dikerjakan dan bagaimana menyimpulkannya, contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula sendiri oleh guru, langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh siswa dan mereka meniru cara kerja dan penyelesaian yang dilakukan oleh guru. Setiap metode pengajaran terdapat kelebihan dan kekurangannya termasuk metode ceramah. Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode ceramah tersebut adalah sebagai berikut. Kelebihan & Kekurangan Metode Ceramah dalam Pembelajaran Kelebihan Metode Ceramah 1. Dapat menampung kelas besar, tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan, dan karenanya biaya yang diperlukan menjadi relatif lebih murah. 2. Konsep yang disajikan secara hirarki akan memberikan fasilitas belajar kepada siswa. 3. Guru dapat memberi tekanan terhadap hal-hal yang penting hingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin. 4. Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran, tidak menghambat terlaksananya pelajaran dengan ceramah.[5] Kekurangan Metode Ceramah 1. Pelajaran berjalan membosankan dan siswa-siswa menjadi pasif, karena tidak berkesempatan untuk menemukan sendiri oleh konsep yang diajarkan. Sisawa hanya aktif membuat catatan saja. 2. Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan. 3. Pengetahuan yang diperoleh melaui ceramah lebih cepat terlupakan. 4. Ceramah menyebabkan belajar siswa menjadi “Belajar Menghafal” yang tidak mengakibatkan timbulnya pengertian.[6] Salah satu peran penting dalam kegiatan belajar mengajar adalah guru atau pendidik. Tugas guru adalah melihat apakah berbagai pengaruh yang ada disekeliling siswa telah dipilih dan diatur agar dapat mendorong timbulnya minat belajar dikalangan anak didik. Untuk bidang studi matematika, guru diminta agar tidak mendominasi kelas dan pengajaran supaya berpusat kepada anak atau siswa. Sebenarnya dalam penggunaan metode ceramah pada proses belajar mengajar adalah metode yang sangat baik, dengan memperhatikan isyarat yang dikemukakan oleh Iman Al Gazali dalam M. Athiyah Al Abrasyi Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam Seorang guru membatasi dirinya dalam berbicara dengan anak-anak sesuai dengan daya pengertiannya, jangan diberikan kepadanya sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh akalnya karena akibatnya ia akan lari dari pelajaran atau akalnya memberontak terhadapnya.[7]

PENTING NYA PENDIDIKAN


Islam, agama yang sempurna, sangat memperhatikan pertumbuhan generasi. Untuk itu, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam telah memerintahkan kita agar memilih calon istri shâlihah, penuh kasih sayang dan kelembutan. Dari istri-istri yang shâlihah ini, diharapkan terlahir anak-anak yang shalih-shalihah, kokoh dalam beragama. Sehingga Islam menjadi kuat dan musuh merasa gentar.
Demikianlah, ibu memiliki peran yang dominan dalam membangun fondasi dan mencetak generasi, karena dialah yang akan mendidik anak-anak dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Perhatian Islam lainnya yang terkait dan ikut berpengaruh dengan pendidikan anak, yaitu bahwa Rasulullah SAW menganjurkan agar orang tua memberi nama yang baik terhadap anak-anaknya. Suatu nama akan turut memberi pengaruh pada anak. Sehingga banyak riwayat yang menjelaskan Rasulullah merubah beberapa nama yang tidak sesuai dengan Islam. Ketegasan Islam dalam mendidik ini, juga bisa dikaji dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika enggan melakukannya bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam shahih Sunan Abi Dawud. No.466).
Perintah mengajarkan shalat, berarti juga mencakup hal-hal berkaitan dengan shalat. Misalnya, tata cara shalat, thahârah, dan kewajiban shalat berjama’ah, sehingga anak bisa lebih dekat dan akrab dengan orangtuanya serta kaum Muslimin lainnya. Adapun pukulan pada anak, Islam memperbolehkan para orang tua untuk memukul, jika anak malas dan enggan melakukan shalat. Tetapi hendaklah diperhatikan, pukulan tersebut dalam batas-batas tarbiyah (pendidikan), dengan syarat bukan pukulan yang membahayakan, dan bukan pula pukulan mainan, sehingga tidak ada pengaruh apapun. Di antara tujuannya, supaya anak merasakan hukuman bila ia melakukan kemaksiatan meninggalkan shalat.
Namun kita lihat pada masa ini, pukulan, sebagai salah satu wasilah dalam tarbiyah, banyak ditinggalkan oleh kita para orang tua. Dalih yang disampaikan, karena rasa sayang kepada anak dan takut melanggar HAM. Padahal rasa sayang yang sebenarnya harus diwujudkan dengan pemberian pendidikan. Dan salah satunya dengan dipukul saat anak melakukan perbuatan maksiat. Rasulullah juga memerintahkan para orang tua supaya memisahkan tempat tidur anak-anak tidak sejenis yang telah memasuki usia sepuluh tahun. Di antara maksud pemisahan ini, ialah untuk menanamkan kemandirian, bertanggung jawab atas urusannya sendiri, termasuk di dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
Sebagai orang tua hendaknya senantiasa mengawasi anak-anak kita, menjauhkannya dari teman dan pergaulan yang buruk lagi menyesatkan. Karena tarbiyah tidak hanya ketika berada di rumah saja, namun juga ketika anak-anak berada di luar rumah. Sebagai orang tua kita seyogyanya mengetahui tempat dan dengan siapa anak-anak kita bergaul. Orang tua adalah pemimpin, ia akan diminta tanggung-jawabnya.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang yang kalian pimpin.” (Muttafaqun ‘alaih).
Kebaikan anak menjadi penyebab kebaikan, khususnya bagi orang tua dan keluarganya, dan secara umum untuk kaum Muslimin. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya
“Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jâriyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shâlih yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan seorang anak dengan kebaikan dan ketaatannya, memiliki manfaat dan pengaruh yang besar bagi orang tua, baik ketika masih hidup maupun sesudah meninggal dunia. Ketika orang tua masih hidup, sang anak akan menjadi hiburan, kebahagiaan dan qurrata a’yun (penyejuk hati). Dan ketika orang tua sudah meninggal dunia, maka anak-anak yang shalih senantiasa akan mendoakan, beristighfar, dan bershadaqah untuk orang tua mereka. Sebaliknya, betapa malang orang tua yang anaknya tidak shalih dan durhaka. Anak yang durhaka tidak bisa memberi manfaat kepada orangtuanya, baik ketika masih hidup maupun saat sudah meninggal. Orang tua tidak akan bisa memetik buahnya, kecuali hanya kerugian dan keburukan. Keadaan seperti ini bisa terjadi, jika kita para orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan atau tarbiyah anak-anaknya.
Kita tidak boleh mengatakan bahwa kebaikan ada di tangan Allah saja, atau hidayah terletak di tangan-Nya. Memang benar hidayah berada di tangan Allah, sebagaimana firman ta’ala,
إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء وهو أعلم بالمهتدين
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orangyang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yangdikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang maumenerima petunjuk”. (QS. Al-Qashash: 56)
Namun yang perlu diperhatikan, faktor yang menjadi penyebab adanya kebaikan dan hidayah ialah karena peran orang tua. Apabila para orangtua telah berperan secara maksimal dan telah menunaikan kewajibannyadalam tarbiyah, maka hidayah berada di tangan Allah subhanahuwata’ala. sedangkan jika orang tua lalai dan mengabaikan tarbiyah, makaAllah subhanahu wata’ala akan memberikan balasan dengan kedurhakaandan keburukan kapada anak. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,Yang artinya
كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani, atauMajusi.” (HR. al-Bukhari)
Di sinilah kita harus memahami secara benar, betapa besar peran orangtua terhadap anak. Orang tua memiliki tanggung jawab membentuk keimanan dan karakter anak. Dari orang tua itulah akan terwujud sosok kepribadian seorang anak. Perhatian terhadap anak merupakan perkara yang teramat penting dan pertanggungjawaban yang besar di hadapan Allah.
Akhirnya, marilah kita menjaga fitrah anak-anak kita. Yaitu fitrah di ataskebenaran dan kabaikan. Karena semua yang kita lakukan atas diri anak, akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Momentum pergantian tahun ini dapat kita jadikan sebagai upaya perbaikan, di antaranya adalah perlakuan kita terhadap anak-anak kita agar mereka menjadi generasi ummat yang baik.

About