Minggu, 09 Desember 2012

PENTING NYA PENDIDIKAN


Islam, agama yang sempurna, sangat memperhatikan pertumbuhan generasi. Untuk itu, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam telah memerintahkan kita agar memilih calon istri shâlihah, penuh kasih sayang dan kelembutan. Dari istri-istri yang shâlihah ini, diharapkan terlahir anak-anak yang shalih-shalihah, kokoh dalam beragama. Sehingga Islam menjadi kuat dan musuh merasa gentar.
Demikianlah, ibu memiliki peran yang dominan dalam membangun fondasi dan mencetak generasi, karena dialah yang akan mendidik anak-anak dalam ketaatan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Perhatian Islam lainnya yang terkait dan ikut berpengaruh dengan pendidikan anak, yaitu bahwa Rasulullah SAW menganjurkan agar orang tua memberi nama yang baik terhadap anak-anaknya. Suatu nama akan turut memberi pengaruh pada anak. Sehingga banyak riwayat yang menjelaskan Rasulullah merubah beberapa nama yang tidak sesuai dengan Islam. Ketegasan Islam dalam mendidik ini, juga bisa dikaji dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika enggan melakukannya bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam shahih Sunan Abi Dawud. No.466).
Perintah mengajarkan shalat, berarti juga mencakup hal-hal berkaitan dengan shalat. Misalnya, tata cara shalat, thahârah, dan kewajiban shalat berjama’ah, sehingga anak bisa lebih dekat dan akrab dengan orangtuanya serta kaum Muslimin lainnya. Adapun pukulan pada anak, Islam memperbolehkan para orang tua untuk memukul, jika anak malas dan enggan melakukan shalat. Tetapi hendaklah diperhatikan, pukulan tersebut dalam batas-batas tarbiyah (pendidikan), dengan syarat bukan pukulan yang membahayakan, dan bukan pula pukulan mainan, sehingga tidak ada pengaruh apapun. Di antara tujuannya, supaya anak merasakan hukuman bila ia melakukan kemaksiatan meninggalkan shalat.
Namun kita lihat pada masa ini, pukulan, sebagai salah satu wasilah dalam tarbiyah, banyak ditinggalkan oleh kita para orang tua. Dalih yang disampaikan, karena rasa sayang kepada anak dan takut melanggar HAM. Padahal rasa sayang yang sebenarnya harus diwujudkan dengan pemberian pendidikan. Dan salah satunya dengan dipukul saat anak melakukan perbuatan maksiat. Rasulullah juga memerintahkan para orang tua supaya memisahkan tempat tidur anak-anak tidak sejenis yang telah memasuki usia sepuluh tahun. Di antara maksud pemisahan ini, ialah untuk menanamkan kemandirian, bertanggung jawab atas urusannya sendiri, termasuk di dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
Sebagai orang tua hendaknya senantiasa mengawasi anak-anak kita, menjauhkannya dari teman dan pergaulan yang buruk lagi menyesatkan. Karena tarbiyah tidak hanya ketika berada di rumah saja, namun juga ketika anak-anak berada di luar rumah. Sebagai orang tua kita seyogyanya mengetahui tempat dan dengan siapa anak-anak kita bergaul. Orang tua adalah pemimpin, ia akan diminta tanggung-jawabnya.
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang yang kalian pimpin.” (Muttafaqun ‘alaih).
Kebaikan anak menjadi penyebab kebaikan, khususnya bagi orang tua dan keluarganya, dan secara umum untuk kaum Muslimin. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya
“Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jâriyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shâlih yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan seorang anak dengan kebaikan dan ketaatannya, memiliki manfaat dan pengaruh yang besar bagi orang tua, baik ketika masih hidup maupun sesudah meninggal dunia. Ketika orang tua masih hidup, sang anak akan menjadi hiburan, kebahagiaan dan qurrata a’yun (penyejuk hati). Dan ketika orang tua sudah meninggal dunia, maka anak-anak yang shalih senantiasa akan mendoakan, beristighfar, dan bershadaqah untuk orang tua mereka. Sebaliknya, betapa malang orang tua yang anaknya tidak shalih dan durhaka. Anak yang durhaka tidak bisa memberi manfaat kepada orangtuanya, baik ketika masih hidup maupun saat sudah meninggal. Orang tua tidak akan bisa memetik buahnya, kecuali hanya kerugian dan keburukan. Keadaan seperti ini bisa terjadi, jika kita para orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan atau tarbiyah anak-anaknya.
Kita tidak boleh mengatakan bahwa kebaikan ada di tangan Allah saja, atau hidayah terletak di tangan-Nya. Memang benar hidayah berada di tangan Allah, sebagaimana firman ta’ala,
إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء وهو أعلم بالمهتدين
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orangyang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yangdikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang maumenerima petunjuk”. (QS. Al-Qashash: 56)
Namun yang perlu diperhatikan, faktor yang menjadi penyebab adanya kebaikan dan hidayah ialah karena peran orang tua. Apabila para orangtua telah berperan secara maksimal dan telah menunaikan kewajibannyadalam tarbiyah, maka hidayah berada di tangan Allah subhanahuwata’ala. sedangkan jika orang tua lalai dan mengabaikan tarbiyah, makaAllah subhanahu wata’ala akan memberikan balasan dengan kedurhakaandan keburukan kapada anak. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam,Yang artinya
كلّ مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani, atauMajusi.” (HR. al-Bukhari)
Di sinilah kita harus memahami secara benar, betapa besar peran orangtua terhadap anak. Orang tua memiliki tanggung jawab membentuk keimanan dan karakter anak. Dari orang tua itulah akan terwujud sosok kepribadian seorang anak. Perhatian terhadap anak merupakan perkara yang teramat penting dan pertanggungjawaban yang besar di hadapan Allah.
Akhirnya, marilah kita menjaga fitrah anak-anak kita. Yaitu fitrah di ataskebenaran dan kabaikan. Karena semua yang kita lakukan atas diri anak, akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Momentum pergantian tahun ini dapat kita jadikan sebagai upaya perbaikan, di antaranya adalah perlakuan kita terhadap anak-anak kita agar mereka menjadi generasi ummat yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About