fenty binti zaeni: September 2014

Minggu, 07 September 2014

Makalah profesi keguruan

MAKALAH
PROFESI KRGURUAN AUD
PERAN GURU DALAM BIMBINGAN DAN KONSLING
Pembimbing:
Titin Faridatun Nisa’, SPd., M.Pd.
Disusun oleh : Kelompok 8
-
-
-
JURUSAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA
2014



KATA PENGANTAR

Puji syukur kamipanjatkan kehadirat Allah SWT karena rahmat,inayah dan hidayahnya yang telah memberikan petunjuk untuk kami dapat  menyusun makalah ini sebagai pedoman dalam melaksakan kegiatan pembelajaran di dalam Universitas Trunojoyo Madura tahun akademik 2014/2015. Makalah ini bertema tentang “ PERAN GURU DALAM BIMBINGAN KONSELING ” yang mana berisikan tentang pembahasan-pembahasan singkat yang kami rancang berdasarkan keseimbangan dalam teorI dan praktek,sehingga dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan yang sesuai dengan progam studi ini yaitu “PROFESI KEGURUAN AUD”. Yang mana kami sesuaikan dengan buku-buku yang kami rangkai secara resmi.
Demikianlah kiranya dan sebagaiharapan kami semoga makalah ini dapat membawa manfaat bagi kami dan anda semua yang membutuhkannya.




Bangkalan, Agustus 2014





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................... 2 DAFTAR ISI................................................................... 3
BAB I
PENDAHULUAN............................................................ 4
A.   Latar Belakang............................................................. 4
B.   Tujuan.......................................................................... 5
C.   Rumusan Masalah....................................................... 6

BAB II
Pembahasan ................................................................... 7
BAB III
Kesimpulan........................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA....................................................... 14









BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang    
Bimbingan dan konseling tidak hanya diperlukan oleh sekolah tingkat tinggi saja, PAUD pun juga membutuhkan bimbingan dan konsling, Adanya bimbingan dan konseling di PAUD bukan berarti sekedar ikut-iktan saja. Keberadaan bimbingan konseling dilingkungan PAUD juga dibutuhkan. Sebab, banyak perilaku bermasalah muncul pada peserta didik ketika dewasa yang disebabkan oleh masa lalunya diwaktu kecil. Hal ini menunjukan bahwa masa-masa awal anak telah kecolongan dalam hal tindakan pencegahan terhadap munculnya perilaku bermasalah di masa depan.
 karena tujuan konseling bukan hanya mengurusi anak-anak yang terkenak masalah saja,tapi tujuan utama diselenggarakannya bimbingan dan konseling di lembaga PAUD adalah mengantisipasi atau mengambil tindakan preventif terhadap munculnya perilaku bermasalah tersebut. Dengan demikian, sesungguhnya bimbingan dan konseling tidak hanya diberikan kepada anak didik yang telah bermasalah perilakunya saja, melainkan juga kepada mereka yang tidak berperilaku masalah. Tentunya, mencegah akan jauh lebih mudah daripada mengobati. Asas ini pula yang akan diberlakukan di dalam bimbingan konseling di lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Dengan kata lain, mencegah munculnya perilaku bermasalah pada anak-anak jauh lebih mudah daripada mengatasi perilaku bermasalah pada orang dewasa.







B.    TUJUAN
        Adapun tujuan pelaksanaan bimbingan konseling pada anak paud sebagai berikut:
1.      Tujuan Khusus
a. Membantu anak untuk :
Ø  mengenal dirinya (kemampuan,sifat,kebiasaan)
Ø  mengembangkan potensinya
Ø  mengatasi kesulitannya
Ø  menyiapkanperkembanganmental, sosial& jenjang pendidikan selanjutnya
b.  Membantu orang tua:
Ø Mengerti, memahami dan menerima anak sebagai individu.
Ø Mengatasi gangguan emosi anak dan kesehatan
Ø memilih sekolah yang sesuai dengan tahap kemampuan anak.
2.      Tujuan Konseling   
a. memberikan bantuan yang intensif dalam membina kemampuan bakat minat,    
             b.      Memecahkan kesulitan serta kelainan khusus yang dihadapi konseli.












C.    RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja kebutuhan bimbingan bagi anak dan macam-macamnya?
2.      Apa fungsi dan prinsip  dari bimbingan konseling tersebut?
3.      Apa pentingnya bimbingan konseling pada anak usia dini?
4.      Asumsi dasar yang melandasi bahwa PAUD memerlukan bimbingan dan konseling?
5.      Apa dampak program bimbingan dan konseling di lembaga PAUD?






















BAB II
PEMBAHASAN

1.      Kebutuhan Bimbingan Bagi Anak dan Macam-Macamnya
           
          Adapun bimbingan bagi anak dan macam-macamnya diantaranya sebagai berikut:
1)      Bimbinagan belajar: Yang perlu diperhatikan mengenai prosedur sekolah dan masalahnya,nbagaimana kalau tidak masuk sekolah dan lain-lain.
2)      Bimbingan penyelesaian: Memberikan kesempatan pada anak-anak yang dapat memberikan kesaksian pada dirinya
3)      Bimbingan pekerjaan (vocational guedance): anak-anak supaya diberi pengetahuan mengenahi bermacam-macam sekolah menengah atas supaya memiliki pandangan tentang sekolah tersebut, hingga mudah membuat pilihan yang ada hubungannya dengan masa depan
4)      Bimbingan sosial dan pribadi: bimbingan yang berhubungan dengan kesulitan psikolog yang dialami anak

2.      Fungsi Dari Bimbingan konseling

            Fungsi utama dari bimbingan konseling adalah membantu murit dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau penempatan dan juga menjadi perantara dari siswa dalam hubungannya dengan para guru maupun tenaga adminitrasi.
Adapun fungsi bimbingan ada 4 macam yaitu:
1.      PRESERVATIF: Memelihara dan membina suasana dan situasi yang    baik dan tetap diusahakan terus bagi lancarnya belajar mengajar.
2.      PREVENTIF: Mencegah sebelum terjadi masalah.
3.      KURATIF: Mengusahakan “penyembuhan” pembetulan dalam mengatasi masalah.
4.      REHABILITASI: Mengadakan tindak lanjut secara penempatan sesudah diadakan treatment yang memadai.
Prinsip-Prinsip konseling anak usia dini adalah:
1.      Menciptakan hubungan harmonis dengan anak.
2.      Adanya toleransi.
      3.      menciptakan situasi aman dan menyenangkan.
3. Pentingnya Bimbingan Konseling Pada Anak Usia Dini
BK selama ini terkesan hanya mengatasi siswa-siswa yang mempunyai masalah saja, padahal BK juga membantu tercapainya segala aspek perkembangan siswa. Baik aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek perkembangan siswa yang maksimal.
Dari semua itu disinilah perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) pada anak usia dini dalam membantu mengidentifikasi permasalahan anak usia dini dan membantu tercapainya segala aspek perkembangan anak usia dini.
Lembaga ini juga bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan mental spiritual.
Program BK ini sebenarnya sama pentingnya dengan program BK di sekolah menengah.sama sama memiliki tujuan yang sama yaitu, membantu peserta didik agar bisa berkembang  sesuai bakat , minat serta kemampuannya secara optimal serta dapat mencegah terjadinya masalah yang mingkin akan muncul pada peserta didik.
Adanya bimbingan dan konseling pada anak usia dini bukan berarti sekedar ikut-ikutan saja. Keberadaan bimbingan konseling dilingkungan anak usia dini juga dibutuhkan. Sebab, banyak perilaku bermasalah muncul pada peserta didik ketika dewasa yang disebabkan oleh masa lalunya diwaktu kecil. Hal ini menunjukan bahwa masa-masa awal anak telah kecolongan dalam hal tindakan pencegahan terhadap munculnya perilaku bermasalah di masa depan.
4.Asumsi dasar yang melandasi bahwa PAUD memerlukan bimbingan dan konseling
Asumsi dasar yang melandasi bahwa PAUD memerlukan bimbingan dan konseling adalah kesetaraan PAUD sekarang ini dengan pendidikan dasar dan menengah. Jika di lingkungan pendidikan dasar dan menengah bimbingan konseling sangat dibutuhkan, otomatis PAUD juga membutuhkannya.
Selain keahlian dan pengalaman pendidik, faktor lain yang perlu dipehatikan adalah kecintaan yang tulus pada anak, berminat pada perkembangan mereka, bersedia mengembangkan potensi yang dimiliki pada anak, baik dalam bersikap dan bersedia bermain dengan anak.
Tidak berlebihan jika PAUD dan jenjang pendidikan di atasnya adalah setara. Kesetaraan tersebut dapat dilihat dari segi yuridis landasan UU maupun tenaga kependidikan yang menanganinya. Dalam UU RI No. 20/2003 menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan anak usia dini jalur formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudhatul athfal (RA) atau bentuk lain yang sejenis; jalur nonformal berbentuk kelompok bermain (KB) dan bentuk lain yang sejenis; sementara di jalur informal berbentuk Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat.
Jadi, pendidikan anak usia dini (PAUD), mencakup tiga lembaga pendidikan anak, yaitu TK/RA, KB dan TPA serta bentuk pelayanan sejenis. Biasanya, pendidikan TK/RA (pendidikan formal) hanya menerima peserta didik berusia 4-6 tahun. Sedangkan KB dan bentuk sejenis (pendidikan nonformal), hanya menerima peserta didik antara usia 2-4 tahun, adapun TPA (pendidikan informal) bisa menerima penitipan anak mulai dari usia 2 bulan sampai 2 tahun.
Pendidikan anak usia dini, dalam hal ini, hanya sebatas membantu dan mengarahkan proses tumbuh kembang anak agar lebih terarah dan terpadu. Orientasi pokok pendidikan anak usia dini adalah:
a) melatih kemampuan adaptasi belajar anak sejak awal.
 b)  meningkatkan kemampuan komunikasi verbal.
 c)  mengenalkan anak pada lingkungan dunia sekitar, seperti orang,    benda, tumbuhan, dan hewan.
d)  memberikan dasar-dasar pembelajaran berikutnya, seperti mengingat,   membaca, menulis dan berhitung sederhana.
Pendidikan anak usia dini, secara khusus bukan bertujuan untuk memberi anak pengetahuan kogniti (kecerdasan intelektual) sebanyak-banyaknya, tetapi mempersiapkan mental dan fisik anak untuk mengenal dunia sekitarnya secara lebih adaptive (bersahabat). Sifat pendidikannya lebih familiar (kekeluargaan), komunikatif (menyenangkan), dan yang paling utama adalah lebih persuasif (seruan/ajakan). Selama dalam proses pembelajaran tidak dikenal istilah-istilah pemaksaan, tekanan atau ancaman yang dapat mengganggu kejiwaan anak. Situasi dan kondisi seperti ini memang sengaja direkayasa dan diciptakan dengan tujuan agar anak mendapat ketenangan dalam belajar, serta mampu mengekspresikan dirinya secara lebih bertanggung jawab.
5. Dampak program bimbingan dan konseling di lembaga PAUD
Program bimbingan dan konseling di lembaga PAUD merupakan program bimbingan yang bermanfaat secara positif, tidak sekadar reaktif dan korektif. Terlebih lagi, jika program bimbingan ini bersifat kontinum berkelanjutan, dan terus-menerus, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, bahkan sampai dimasyarakat. Tentu, hasilnya akan jauh lebih baik daripada bimbingan yang sifatnya eksidental semata.Tetapi, penekanan bimbingan dan konseling dapat berubah-ubah, sesuai dengan kebutuhan anak didiknya atau sesuai dengan taraf perkembangannya. Atas dasar ini, maka bimbingan konseling di PAUD tidak boleh hanya terfokus pada tumbuh kembangnya anak secara normal dan kompetensi calistung semata, melainkan juga harus menemukan jati diri anak didik yang unik dan khas, sesuai dengan kepribadiannya.
Petualangan pencarian jati diri anak didik harus dimulai sejak dini atau dilembaga PAUD. Sebab, penemuan dan pemahaman akan dirinya sendiri akan sangat membantu mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru yang akan dihadapi. Disamping itu, penemuan jati diri atau kepribadian anak didik dapat membantu mereka dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensinya.
Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD tidak hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya anak secara maksimal. Pandangan ini menitik beratkan pada bimbingan yang bersifat preventif, kesehatan mental, dan pengembangan diri daripada bimbingan yang menitik beratan pada psikoterapi maupun diagnosis terhadap perilaku bermasalah.
Terlebih lagi, ketika para psikolog telah menyadari betapa pentingnya melakukan identifikasi sejak dini terhadap perilaku bermasalah pada anak-anak. Dengan melakukan identifikasi ini, diharapkan anak-anak dimasa depan tidak lagi mengalami hambatan dalam belajarnya, terlebih lagi gangguan pada mentalnya.
Momen yang paling tepat untuk melakukan tindakan identifikasi ini adalah pada masa-masa awal usia dini atau di lembaga PAUD. Beberapa alasan berikut ini kiranya dapat memberi pemahaman kepada kita mengapa tindakan identifikasi untuk mencegah perilaku bermasalah paling tepat dilakukan pada masa usia dini atau PAUD.



       



BAB III
PENUTUP
           Kesimpulan
Secara sederhana setelah membahas kajian mengenai peran guru dalam bimbingan dan konseling di lembaga PAUD, penulis mempunyai tiga prinsip yang dapat digunakan secara umum yang harus dimiliki oleh para konselor di lembaga PAUD. Dan bila ketiganya dapat direalisasikan dalam pelaksanaannya maka kemungkinan besar konseling dapat berjalan dengan baik dan tujuan konseling dapat tercapai sesuai harapan.
Pertama, menawan hati. Konteksnya kemampuan guru atau orang tua peserta didik dalam “memikat” perasaan atau emosi anak didik, khususnya bila sedang dalam masalah. Dengan ini, diharapkan anak-anak bermasalah akan terkesima dan mencitrakan sosok tersebut sebagai orang utuh yang siap mengentaskan segala persoalannya dengan tulus, ihklas dan tanpa pamrih.

Kedua, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. Prinsip kedua bagi guru dan orang tua sebagai konselor bagi anak-anak di lemabaga PAUD adalah kemampuan bersikap tenang dalam menghadapi persoalan anak. Perawakan tenang dan menawan hati tersebut mampu membuat anak-anak bermasalah menaruh kepercayaan besar bahwa pendidiknya dapat mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya.
Ketiga, mampu berempati secara mendalam. Di samping menawan hati dan berperawakan tenang, konselor PAUD juga harus mampu berempati secara mendalam, tanpa harus berlarut dalam arus permasalahan anak. Ketika anak-anak mengemukakan masalah yang dihadapi, konselor harus mampu memasukan masalah yang dikemukakan anak didiknya tersebut kedalam perasaan, sehingga ia mampu merasakan apa yang dirasakan anak didiknya.
Dengan kemampuan ini maka anak didik akan merasakan kepuasan dalam setiap penyelesaian masalahnya, dan dapat dipahami secara penuh oleh pendidik PAUD secara sempurna. Atas dasar ini, anak akan menganggap bahwa bimbingan dan konseling dapat berguna dalam penyelesaian masalah di masa anak-anak terutam di lingkungan pendidikan anak usia dini.














DAFTAR PUSTAKA
Latipun. Psikologi Konseling. (Malang: UMM 2006).


About